Terjebak Dalam Bayangan Semu

PENGENALAN

Sebuah pengharapan timbul di dalam hati dan terus bergejolak di dalam jiwa, membawa segenap impian menghempaskan segala ketidakmungkinan, memberikan segala daya untuk terus berjuang meraih tujuan. 

Bukan suatu kebetulan seorang laki-laki dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang serba kekurangan pada waktu itu. Seorang bayi kecil yang teramat tampan untuk mendapatkan perlakuan istimewa didalam keluarganya, sebut saja namanya Stefanus, ia dilahirkan pada hari minggu dan dibulan April.

Anak tersebut mendapatkan kebutuhan nutrisi dan protein yang tercukupi, oleh karena itu seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, anak tersebut beranjak dari balita hingga menginjak dibangku Sekolah Dasar (SD). Bermain pada masa kanak-kanak yang belum mengenal gadget atau smartphone layaknya pada usianya dan dengan perkembangan pada zamannya, ada yang bermain klereng, eggrang, karet, gasing dan lain-lain. Tidak ada namanya pamer hp ataupun alat komunikasi canggih lainnya, yang ada malah berlomba-lomba membuat dan memamerkan permainannya kepada teman-teman yang lainnya. 

Saat mengingat masa-masa dimana bermain bersama teman-teman, bercanda dan tertawa bersama rasanya ingin kembali ke masa tersebut, semua kenangan pada masa kanak-kanak tak akan pernah lepas dari ingatan. Andai saja masa kecil dapat diulang kembali dengan hal-hal yang indah dan menyenangkan pada masa itu, alangkah indahnya hidup ini.

Jeritan hati ini tak bisa mengembalikan semua keadaan pada waktu itu, kehidupan itu ibarat perahu di tengah-tengah lautan, nahkodanya ialah Sang Pencipta, bagaimana kita dibawa oleh sang nahkoda untuk berlayar meraungi lautan yang begitu kompleks dan sarat akan segala badai yang akan menerpa sewaktu-waktu.

Stefanus tersebut hidup di sebuah pedesaan yang jauh dari perkotaan, kehidupan yang sangat sederhana membuatnya tak pantang menyerah menghadapi kehidupan, keinginannya untuk melaju dan mencapai impiannya terus menggebu sejak dari Sekolah Dasar. Kehidupannya yang seakan-akan mustahil untuk membuatnya mencapai impiannya terus membayangi setiap langkahnya namun tekad dan kegigihannya tidak pernah pudar. Orang tuanya bukanlah seorang yang bergelimang harta ataupun memiliki asset yang melimpah sehingga bisa menjamin anak-anaknya untuk menggapai impiannya.

Stefanus adalah seorang anak bungsu, dilahirkan dari tiga bersaudara dengan jarak kelahiran dari anak pertama dan ke dua bisa mencapai 5-7 tahun begitu juga anak kedua hingga ke Stefanus bisa mencapai 5 tahun, hal tersebut yang membuat Stefanus merasa tidak memiliki teman sebaya yang bisa diajak curhat bersama. Stefanus didik dari kecil oleh orang tua untuk berpikir maju dan kedepan, hal tersebut membuat Stefanus secara tidak langsung dipaksa untuk berpikir selangkah lebih maju dari usianya saat itu. Pola berpikir yang terus dilatih dari sejak usia dini tersebut membuatnya merasa bukan dirinya lagi sehingga membuatnya merasa bergaul pada anak-anak seusianya kurang layak, hal tersebut membuatnya merasa dirinya nyaman dengan orang yang usianya berada di atasnya dengan alasan pola berpikir yang dianggapnya sesuai dengan dirinya dan Stefanus merasa mendapatkan ilmu serta pengalaman intelektual yang lebih dari pada usia sebayanya.

Komentar

Postingan Populer