KELANGKAAN EMPATI
Yogyakarta. Selasa, 27 Agustus 2013

Di era globalisasi seperti ini yang menjadi suatu kelangkaan bukan hanya yang terdapat dalam berita terpopuler saja, yaitu; BBM (Bahan Bakar Minyak) bukan juga sumberdaya alam atau sumberdaya manusia, yang lebih mengejutkan lagi ialah terdapatnya KELANGKAAN EMPATI yang terjadi saat ini sehingga lambat laun akan mengakibatkan mental dan moral bangsa kita mengalami kemunduran bahkan kebobokran  secara signifikan. Sangat mengejutkan apabila kondisi ini tidak mendapatkan perhatian yang serius dari semua pihak, tidak dapat dibayangkan akan seperti apa bangsa ini kedepannya apabila dari setiap warga negaranya tidak memiliki empati? Apakah kita akan berjalan seperti kejadian pada zaman penjajahan kolonial yang kejam dan tidak memiliki empati? Atau manusia pada akhirnya akan menjadi seorang yang individualisme, tidak peduli dengan lingkungan, tidak peduli dengan orang lain bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri? Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang berarti perlu adanya komunikasi, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong, dermawan dan tidak hidup seorang diri. Jika kita telah diciptakan dan ditetapkan sebagai makhluk sosial lantas mengapa kita menggolongkan diri sebagai seorang yang individualisme atau seorang yang tidak memiliki empati? Sungguh ironis apabila peristiwa ini benar-benar melanda setiap orang.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) em·pa·ti /√©mpati/ n Psi ialah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya di keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain dan orang yang ber·em·pa·ti v ialah melakukan (mempunyai) empati: apabila seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain, berarti ia sudah mampu ber-empati.
Yang menjadi pertanyaannya ialah, sudahkan kita memiliki hati yang ber-empati? Bagaimana dapat terjadi kelangkaan empati? Apakah penyebab dari semuanya itu? Mari kita selidiki secara seksama.
          Dalam banyak teori atau banyak hal, manusia pada hakekatnya diciptakan sebagai mahkluk sosial. Ada beberapa alasan yang dapat mengakibatkan terjadinya kelangkaan empati, salah satunya ialah pada umumnya manusia cenderung hidup sendirian atau individualisme yang pada dasarnya tidak ingin dirugikan oleh siapapun, ingin berusaha sendirian/ tidak membutuhkan orang lain dan tidak percaya kepada siapapun serta tidak peduli dengan orang lain, hal ini masuk dalam golongan egoisme. Kemudian menurut tingkat emosional hati, banyak orang tidak dapat berempati karena acuh tak acuh terhadap persoalan orang lain oleh karena tidak dapat merasakan perasaan yang dirasakan orang lain dan tidak peka dengan keadaan yang dialami diri sendiri ataupun orang lain penyebabnya ialah karena tidak adanya hati yang remuk untuk memurnikan hati sehingga menjadi hati yang baru, adapula seseorang yang sudah diremukkan hatinya namun tidak dapat berempati, hal tersebut biasanya dipengaruhi juga dengan keadaan dimana seseorang yang telah dimurnikan hatinya itu tidak peka akan persoalan hidup. Jadi, antara peka dan dimurnikan hatinya ini saling berkesinambungan satu dengan yang lain sehingg seseorang dapat dikatakan berempati, apabila salah satu saja tidak dipenuhi maka seseorang tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain (berempati) sebagai contoh; jika seseorang tidak dimurnikan hatinya tetapi peka, hal ini tidak dapat dikatakan berempati karena apabila suatu saat mendapatkan kasus persoalan hidup maka ia hanya dapat peka namun tidak dapat merasakan seutuhnya penderitaan yang dialami orang lain. Sebagai contoh lain, jika seseorang tidak peka tetapi hatinya telah dimurnikan maka orang tersebut juga tidak dapat digolongkan sebagai seorang yang berempati karena acapkali orang tersebut merasakan penderitaan namun tidak peka akan penderitaan hidup yang dialami oleh orang lain. Oleh karena itu antara peka dan dimurnikan hatinya harus berjalan berdampingan, seseorang yang dapat berempati dengan setulus hati apabila orang tersebut telah diremukkan hatinya untuk dimurnikan dan ia juga telah peka dengan persoalan hidup pribadi maupun persoalan orang lain sehingga dapat merasakan bagaimana sakitnya akan penderitaan yang dialami orang lain serta ikut ambil bagian dalam penderitaan yang dialami.
 Sekarang... Bagaimanakah dengan anda??? Sudahkah anda memiliki hati yang berempati??? Lantas apakah tips sederhana untuk dapat berempati. Pertama-tama anda harus membuka hati dan membuka diri selebar-lebarnya untuk diremukkan, untuk dimurnikan di dapur perapian yang menyala-nyala untuk dibentuk oleh Tuhan dan selanjutnya ikuti proses-Nya lalu hiduplah benar dan sungguh-sungguh didalam Tuhan maka anda akan merasakan dampak yang begitu menakjubkan serta peliharalah hati yang baru itu didalam Tuhan. Begitu langkanya EMPATi disekitar kita hingga dapat dihitung orang yang berempati, oleh karena itu...
Mari jadi agen perubahan bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan


Keep thy heart with all diligence; for out of it are the issues of life. Proverbs


Komentar

Postingan Populer