Dapur Perapian


Ketika langit tampak suram, awan pekatpun datang dan badai pun seakan tak terhentikan, hanya butiran tetesan air yang mengalir deras di pipiku. Menjeritpun aku tak sanggup, bertahan tak mampu bahkan berdiripun tak dapat aku lakukan, rintihan kalbu mengiringiku dalam setiap detak jantung yang berdenting menghiasi langkah demi langkah dikehidupan, mataharipun sedikit memancarkan sinarnya untuk memberikan secerah harapan hingga membawa langkah kaki ini menelusuri dimensi waktu yang tak pernah tertembus oleh cahaya mentari, bagi banyak orang tampak bodoh melangkah kepada celah sempit nan berdinding tajam dan beralaskan duri kematian. Ketika kulangkahkan kaki ini pada pijakan pertama tampak menyenangkan namun pijakan yang kedua terasa ada yang berbeda namun, ku beranikan untuk melangkah lebih lagi dan ada sesuatu yang tersangkut pada kakiku, dengan penuh penasaran kuhentikan langkah kaki ini untuk melihat sejenak apa gerangan yang tersangkut di kakiku setelah ku hentikan dan melihat yang tersangkut ternyata seekor ular berbisa, aku menjerit ketakutan “Aaaaaaaaa.....”  tak seorangpun kutemui untuk membantuku dalam setiap kebimbangan dan keputusasaan, dengan wajah yang begitu cemas aku mencoba untuk melepaskan lilitan ular tersebut, yang lebih mengejutkan lagi ialah ribuan ular berbisa ada di belakangku, semakin cemas dan tak tahu harus bagaimana memilih jalan keluar sebab kalau aku kembali kebelakang begitu ribuan ular berbisa menghadangku seraya berpikir kalau-kalau di depanku terdapat juga raja atau ratu ular berbisa yang begitu ganas untuk mencelakanku.
Keputusan yang penuh dengan dilema akhirnya kuberanikan diri untuk melangkah dengan penuh kebimbangan dan sedikit harapan, ketika kulangkahkan kaki ini terdapat dua persimpangan. Haruskah aku memilih persimpangan yang kanan??? Tanyaku dalam hati. Lalu kuputuskan untuk berbelok ke kanan, semua perjalanan terasa menyenangkan dan mengasyikkan tanpa rintangan tanpa kesusahan bahkan semuanya penuh dengan kelimpahan dan aku selalu bermain ke sana, ke sini dan tidak pernah aku menghargai hidup ini, semuanya serba sebebas-bebasnya dan sesuka hatiku, apapun yang aku ingin lakukan dapat aku lakukan tanpa seorangpun yang melarangku untuk melakukan segalanya. Semua keinginanku untuk bebas sudah aku pikirkan sebelum aku melanjutkan ke tikungan kanan “pokoknya aku ingin hidup bebas... sebebas-bebasnya.... aku gak ingin terus-terusan ada diposisi yang tertekan seperti itu, aku benci semuanya...” motivasiku dari dulu untuk memilih bebas bagaikan api dalam sekam, begitu banyak duri dalam perjalanan sehingga membuat aku memilih mendapatkan motivasi seperti itu oleh karena itu akhirnya aku mendapatkan pemurnian dahulu untuk dapat kembali bercahaya bagaikan mentari yang tak pernah terlambat untuk bersinar. Begitu mengetahui jalan yang aku lalui adalah suatu kebodohan besar, maka didepanku bukan hanya sekedar pelataran duri melainkan berbagai paku dan benda-benda tajam lainnya yang menghadang, aku berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengar dan menolongku “mengapa tidak ada seorangpun yang menjawab seruan suaraku yang meraung-raung..... adakah seorang yang mau dan sanggup menolongku.... “ tak ada yang mendengarku dan menghampiriku, aku berteriak sekali lagi “Tolooong...........” tak ada yang mendengarkanku, aku merenungkan perjalanan hidup, sakit sekali ketika berada diposisi seperti ini, tak mengerti arti dan jalan hidup, aku benar-benar telah dibodohi oleh tipu daya keadaan yang buruk. Begitu mudahnya aku dibodohi dengan semuanya yang ada, aku tertipu dengan dunia yang cemerlang dan menawarkan semuanya dengan segala kemudahannya. Ketika aku menoleh ke kiri ternyata banyak temanku juga sengsara dengan jalan yang dipilihnya oleh karena ketidaksetiaannya kepada Tuhan, ketika aku menoleh ke kanan ternyata ada begitu banyak teman-temanku yang telah meraih kesuksesan, hati kecilku mulai mempertanyakan kepada Sang Pencipta “Mengapa aku seperti ini.. orang lain yang tidak mendengarkan Engkau begitu lancar dengan segala hidupnya dan mendapatkan kesuksesan, tapi... mengapa aku yang mencoba mendengarkan Engkau dan sedikit berpaling dari Engkau malah begini?”
Belajar dari celah yang sempit, dengan begitu banyak penyesalan yang terjadi. Tiba-tiba kegelapan menyelimutiku di lorong yang tadinya indah nan bersinar terang sehingga aku merasakan kegelapan yang begitu gelap. Dalam rintihan aku memohon kepada Sang Pencipta agar memberikan setitik cahaya untukku dapat keluar dari tempat ini dan kembali lagi kepada sebuah jalan yang telah ditentukan olehku, “Dalam rintihan kalbu ini aku mohon TUHAN untuk belas kasihanMu kepadaku agar aku dapat merasakan kehidupan yang benar dijalanMu” ternyata suatu jawaban yang pasti untuk menelusuri mengapa kegelapan menyelimuti diriku ialah motivasi untuk memilih jalan ini, sebab Tuhan telah menyediakan jalan yang begitu indah, kemudian setelah adanya setitik cahaya, aku mulai merasakan api menyambar diriku secara tiba-tiba dan aku diseret untuk dimasukkan ke dalam dapur perapian menyala-nyala yang begitu menyakitkan, menyayat hati sampai seluruh tubuhku bercucuran darah, begitu panasnya berada didalam dapur perapian yang menyala-nyala hingga 100 kali lipat panasnaya dari api tungku biasa, ditempat itu aku dimurnikan motivasi hidup supaya benar, disitu aku benar-benar merasakan begitu luar biasanya sakit ditempa oleh Tuhan agar menjadi bejana yang indah. “aaaarrrr... panaaaass.... ampun Tuhan... jangan bawa aku kedalam tempat ini... sakitt... toloong Tuhan... aku gak mau hidup seperti ini... tolong bawa aku keluar..” Ketika aku mengambil keputusan untuk berdiam diri sejenak dan merenungkan semuanya, aku mencoba mohon ampun kepada Tuhan untuk segala kebodohan dan kesalahanku selama ini dan berjanji untuk kembali kejalan kebenaran serta berjanji untuk hidup didalam DIA, setelah beberapa waktu yang sangat lama akhirnya Tuhan berbelas kasihan kepadaku, perlahan api itu tampak tidak menyeramkan, lalu aku kembali ke belakang untuk berjalan dicelah yang seharusnya aku lalui, dengan penuh penyesalan dan harapan aku kembali kepadaNya untuk mendapatkan kasihNya. Lalu aku menemukan jalan yang semula dan berjalan terus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, yang semula aku pikir didepanku terdapat raja atau ular berbisa ternyata semua yang aku pikirkan itu salah. Meskipun pikiranku tentang jalan kedepan salah namun tetap dalam perjalananku terdapat batu krikil yang harus aku lalui untuk menunjukkan kehidupan kekal yang ada didepanku, sesekali tampak nafasku tersengal-sengal karena perjalanan ini yang sangat melelahkan, sekarang aku bertekad untuk hidup baik dan benar dalam perjalanan ini, kemudian tampak gerimis rintik-rintik menemaniku disetiap langkah kaki ini, tak perlu aku iri dan memandang jalan hidup orang lain dan yang menjadi fokus utamaku sekarang ialah bagaimana hidup aku dapat bermanfaat untuk orang lain sehingga menyenangkan hati Tuhan karena segalanya dari DIA, oleh DIA dan untuk DIA. Seiring berjalannya waktu perasaan yang mencekam dilorong kini berangsur-angsur sudah mulai pulih dan berbagai macam opini orang lain yang menggelora atas jalan hidupku mulai memekakan telinga, dan aku mulai fokus terhadap pandangan hidupku bersama Tuhan. 

Komentar

Postingan Populer